Ilustrasi: Pexels

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Isra’ Mi’raj merupakan suatu perjalanan spiritual Rasulullah SAW atas kehendak Allah SWT dengan misi utama untuk menerima perintah salat.

Meskipun perjalanan tersebut berada di luar batas kemampuan akal manusia pada masanya, Allah tetap menetapkannya sebagai bagian dari kehendak-Nya.

Namun, Allah menetapkan bahwa proses tersebut tetap mengikuti hukum-hukum kausalitas alam, sehingga manusia dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya inspirasi dalam pengembangan sains untuk semakin meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. (QS. 17:1).

Perjalanan Spiritual Isra’ Mi’raj Rasulullah

Melalui Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW menerima perintah salat sebagai ibadah utama bagi umat Islam. Dalam konteks sejarah perjalanan spiritual Rasulullah tersebut terjadi pada masa “Amul Huzn”, yakni masa ketika Rasulullah mengalami kesedihan setelah wafatnya istri tercinta Rasulullah, Khadijah dan pamannya Abu Thalib.

Jadi, perjalanan spiritual ini adalah upaya Allah untuk menghibur Rasulullah dengan membangun jalur yang membuatnya lebih dekat dengan Tuhan-Nya di tempat yang sangat jauh dari dunia dan di luar batas alam semesta. Selain itu, melalui perintah salat, Allah memperkuat iman Rasulullah untuk menghadapi tantangan tambahan dalam dakwahnya.

Salat lima waktu yang diberikan oleh Allah kepada setiap muslim yang mengikuti Rasulullah Muhammad Saw. (QS. 17:78 dan 11:114), merupakan cara Allah untuk memberikan sarana kepada hambanya untuk mendapatkan kebahagiaan melalui perjalanan spiritualnya berupa salat.

Ibnu Mas’ud dan Salman al-Farisi ra. pernah mengatakan: “Salat itu merupakan alat penyeimbang yang sempurna. Oleh karena itu, bagi siapa saja yang menyempurnakan salat, niscaya ia juga akan menerima keseimbangan yang sempurna dalam hidup.

Sedangkan bagi siapa yang bersikap curang dalam salatnya, maka seperti apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surah al-Mutafifin (83), yakni hatinya tertutup yang mengalanginya dari Rahmat Tuhannya”.

Maka kunci dari didapatkannya kebahagian seseorang adalah hatinya bersih sehingga mempermudah mendapatkan pancaran Rahmat dari Allah Swt.

Pada suatu kesempatan Nabi Saw. Pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.””.

Kemudian beliau bersabda, “Apabila seseorang menjaga salatnya lima kali sehari dengan tharahah (bersuci) yang sempurna, dan pada waktu yang telah ditentukan, niscaya ini akan menjadi hujjah serta cahaya baginya pada hari berbangkit nanti. Sebaliknya, siapa saja yang merusak salatnya, niscaya ia akan dibangkitkan bersama-sama fir’aun dan hamman” (HR. Imam Ahmad).

Salat dan Kesucian Hati

Ilustrasi: Pexels

Hati yang bersih akan memancarkan cahaya “godspot” yang bersih dari dosa-dosa yang menutup hatinya.

Rasulullah Saw juga pernah bersabda. “Salat lima kali dalam sehari semalam itu laksana sungai yang airnya bersih mengalir di samping rumah seseorang. Ia mandi sebanyak lima kali dalam sehari semalam di sungai itu. Apakah kalian akan menemukan kotoran melekat pada tubuhnya?”.

Para sahabat menjawab “Tidak”, Kemudian Rasulullah Saw. Bersabda “Sebagaimana air membersihkan kotoran, maka demikian salat lima kali dalam sehari, ia membersihkan dosa dari diri pemiliknya” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga bersabda: “Salat fardhu yang dilakukan secara berkesinambungan menjadi tebusan bagi dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya, asalkan seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).

Terkait dengan kesucian hati tersebut, Imam Al-Ghazali memberikan gambaran dalam tiga tingkatan.

Langkah pertama dalam penyucian diri adalah menjauhi segala perbuatan buruk yang mengandung dosa. Selanjutnya, seseorang perlu membersihkan qalbu dari akhlak tercela serta sifat-sifat keji lainnya. Tingkatan yang paling sempurna, yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan shiddiqin, adalah ketika jiwa benar-benar terbebas dari segala sesuatu selain Allah SWT.

Menyucikan diri pada setiap tingkatan merupakan setengah dari amal dalam tingkatan tersebut. Setiap amal dalam tingkatan salat bertujuan untuk terus mengingat Allah SWT (dzikrullah). (QS. 20:14) dan mengagungkan nama-Nya, ma’rifatullah (mengenal cahaya Allah) dalam shalatnya tidak akan tercurah kepada seseorang sebelum ia membersihkan ruhaninya dari segala sesuatu selain Allah.

Maka dari itu Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Allahlah yang menurunkannya (al-Qur’an), kemudian sesudah engkau (Muhammad) menyampaikannya kepada mereka. Biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.’” (QS:6:91).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada waktu bersamaan mustahil kebenaran dan kesesatan berkumpul menyatu dalam sanubari seseorang hamba.

Allah Swt. juga berfirman: “Allah tidak menjadikan seseorang mempunyai dua qolbu di dalam dadanya.” (QS.33:4). Adapun tujuan dari amal shalih adalah membangun ruhani dengan akhlak yang terpuji, dan akidah islam yang hanif (lurus).

Kesucian Jiwa Bagian dari Keimanan

Ilustrasi: Pexels

Ruhani (Jiwa) manusia tidak akan memiliki akhlak yang terpuji sebelum bersih dari akhlak buruk yang tercela.

Membersihkan dan menyucikan qolbu dari sifat-sifat tercela adalah setengah dari perbuatan yang menjadi syarat pokok untuk melakukan amal shalih sebagai penyempurna.

Dengan memahami makna Isra’ Mi’raj, kita dapat lebih menghayati pentingnya salat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengertian ini maka semakin nyata bahwa kesucian jiwa adalah sebagian atau setengah dari keimanan seorang hamba. Begitu pula dengan salat adalah setengah yang utama sebagai syarat keimanan seorang hamba kepada Allah SWT karena salat bermanfaat sebagai sarana penyucian diri dari dosa-dosa dan penghalang bagi dosa-dosa yang akan datang “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar…” (QS.29: 45).

Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk tetap istiqomah dalam menegakkan salat serta menjaga kualitasnya. Dengan demikian, kita dapat mencapai maqam khawashul khawas, maqam para nabi, shiddiqin, serta muslikh sebagai sarana penyucian jiwa dari selain Allah SWT yang bersemayam dalam diri kita.

Inilah makna sesungguhnya dalam memperingati Isra’ Mi’rajnya Rasulullah Saw (shd)

Sumber Rujukan:

1. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Kairo, mesir: Dar al-Hadits, 2004

2. Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani, Tanqihul Qawl al-Hatsits Bisyarhi Lubbabil Hadits. Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah

Penulis: Rahmad Salahuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Explore More

Seminar Ilmiah & Halal Bihalal IPERI KOMDA Surabaya 2025

Seminar Ilmiah dan Halal Bihalal: Sinergi Ilmu dan Silaturahmi di Dunia Periodonsia Surabaya, 13 April 2025 – Seminar Ilmiah dan Halal Bihalal IPERI KOMDA Surabaya sukses diselenggarakan di Morazen Hotel,

Inovasi Minuman Susu Kambing untuk UMKM Desa Sentul

Peluncuran Inovasi Minuman Susu Kambing di Desa Sentul Pasuruan, 29 Januari 2025 – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menghadirkan inovasi minuman susu kambing sebagai terobosan baru dalam program Kuliah Kerja

Jurus Sehat dari Kedurus: KKN-T Umsida Bantu Upgrading Jamu Lokal Jadi Lebih Modern

Sidoarjo, 9 Agustus 2025 – UMKM Jamu Dusun Kedurus, Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, mendapatkan sentuhan baru dari Tim KKN-T 2025 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kelompok 03. Melalui program